Berdamai dengan Luka; Cara Terbaik agar Seutuhnya Bahagia

Sebuah Pengantar

Pernahkah kita tiba-tiba ingat pada suatu peristiwa yang terdahulu, yang tidak menyenangkan, tetapi sakitnya terasa hingga sekarang? Bagaimana cara melupakan nya?

Aku ingin bebas, ingin berpaling, namun nyatanya itu sangat bias dan hanya sementara. Ketika kudapati tak sengaja ingatan peristiwa itu kembali, perih di hati benar-benar masih sangat membekas. Ah sudahlah, aku pun bisa memilih untuk bahagia. Tapi kenapa ketika ingatan akan luka itu datang, seakan2 sepanjang hariku menjadi berselimut mendung.

Inikah bahagia sesungguhnya? Kurasa bukan. Ada apa dengan diriku? Sungguh, aku ingin sembuh dan benar benar ingin menjadi pribadi yg bebas. Ku tahu aku harus memaafkan. Tapi mengapa aku belum mampu? Ataukah ku tak tahu caranya, dan harus mulai dari mana?

Luka, kesedihan, keterpurukan, ataupun beragam peristiwa menyakitkan lainnya, sebenarnya sama saja dengan kebahagiaan atau peristiwa menyenangkan yang kita alami. Mereka sama-sama rentetan peristiwa penting yang terjadi atas skenario Tuhan dalam hidup kita. Namun, seringkali, hal penting yang tidak kita sadari, ke semua peristiwa tersebut merupakan sarana untuk kita terus bertumbuh dan berproses menjadi manusia yang semakin bijaksana, hingga sampai pada titik kita berpijak sekarang.

Namun, karena kita manusia, memang sewajarnya hanya menerima hal-hal yang berbau kebahagiaan saja karena sifat dasar kita yang menyukai segala sesuatu yang menyenangkan. Kita akan cenderung menolak atau menjauhi segala sesuatu yang dianggap menyakitkan, sehingga kita kurang mau mengakui adanya perasaan-perasaan tsb. Hal itulah mengakibatkan kita menjadi lupa bahwa peristiwa peristiwa yang menyakitkan itu punya andil yang besar dalam membentuk diri kita menjadi lebih tangguh dalam menghadapi kehidupan.

Hakikat manusia

Dalam Teori Gestalt, manusia sempurna adalah manusia yang mau mengakui dirinya sebagai satu kesatuan utuh, baik segala kelemahan, kekurangan, kesakitan, luka, dan atau seluruh kebahagiaan yang pernah ia alami sepanjang hidupnya. Dia mampu memaknai bahwa seluruh peristiwa dalam hidupnya merupakan satu bagian utuh yang membuatnya bisa berdiri tegak sampai sekarang ini.

Selain itu manusia sempurna adalah manusia yang memiliki keinginan untuk terus meningkatkan kebermaknaan dalam hidupnya (to be Fully Functioning Individual). Ia tidak hanya cukup pada fase bisa menerima diri sepenuhnya, namun ia terus memacu diri untuk membuat dirinya lebih bermakna. Baik untuk kehidupannya sendiri, ataupun untuk orang lain.

Unfinished Bussiness

Unfinishes bussiness adalah perasaan perasaan yang tidak terekspresikan hingga tuntas. Bahkan mungkin saja perasaan tersebut belum pernah diberikan kesempatan untuk diekspresikan di masa lalu, sehingga mampu mengganggu jika muncul di masa sekarang.

Mengapa hal itu terjadi? karena perasaan sangat berkaitan dengan ingatan dan fantasi, hingga mampu mempengaruhi perilaku seseorang. Jika kita pernah merasa kecewa atau memiliki pengalaman emosional tidak menyenangkan dengan seseorang, pasti kita akan selalu ingat bagaimana urutan peristiwa menyakitkan itu terjadi. Bahkan sampai pada hal-hal kecil atau atributnya. Akibatnya kita enggan untuk kembali berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang tersebut.

Oleh karena itu, unfinished bussiness sering menjadikan seseorang gagal menjadi manusia sehat seutuhnya. Mengapa? karena seseorang yang masih memiliki unfinished bussiness seringkali pada saat saat tertentu merasa tidak bahagia, tidak berguna hidupnya, atau lebih memilih untuk menghindari emosi-emosi negatif dari pada melakukan sesuatu yang ia butuhkan untuk berubah menjadi lebih baik (berlarut larut dalam mengingat kesedihannya daripada berusaha berdamai dengan lukanya dan merubah sikapnya terhadap orang lain yang pernah membuatnya kecewa).

Cara Berdamai dengan Luka (Memaafkan dengan Sempurna)

  1. Mengakui adanya rasa sakit yang dialami dan menerimanya, bukan menolak atau menyalahkan adanya luka. Cari cara untuk mengekspresikan rasa kecewa yg dirasakan, pilih yang paling aman, nyaman untuk diri sendiri, dan berikan ruang serta waktu untuk melepaskannya. Hanya, pastikan tidak berlarut-larut. Berlarut larut artinya terus meratapi, terus menyesali, terus menutup diri, dan atau membiarkan rasa sakit itu menjadi meluas. Meluas artinya mempengaruhi seluruh pikiran, perasan, bahkan kesadaran, hingga kita menjadi mengada-ada yang tidak ada. Membesar-besarkan apa yang sebenarnya kecil, dan membenar benarkan hal-hal yang bukan merupakan fakta. Maka, dalam hal ini, harus punya batas kendali (pikiran yang sadar) dalam mengekspresikan emosi.
  2. Mengungkapkan. Emosi perlu diungkapkan. Diekspresikan bisa melalui tulisan, atau diceritakan kepada orang lain. Bisa pada ahli, atau pada orang terdekat yg dipercaya. Pilih orang yang benar-benar bisa membantu, bukan yg justru semakin membuat hampa.
  3. Memaafkan. Artinya mampu ikhlas, legowo, dan berbesar hati dalam menerima kesedihan tersebut. Proses ini hanya soal pemberian waktu, sampai tiba pada titik mampu memaknai bahwa peristiwa (menyakitkan) tersebut merupakan bagian dari hidup kita, yang meneguhkan kita hingga mampu berdiri tegak sekarang ini. Berupaya meyakini bahwa segala peristiwa yang kita alami, merupakan reka adegan Tuhan yang dipilihkan untuk masing-masing kita, agar terus belajar, berproses, dan bertumbuh dalam hidup. Puncak memaafkan yg sempurna adalah ketika kita justru mensyukuri dan mengambil hikmah atas terjadinya peristiwa tersebut dalam hidup kita, karena kita sadar tanpa adanya masalah tsb mungkin saja kita belum menjadi setangguh hari ini. Terlebih jika proses ini mampu menjadi media untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Tuhan, di situlah kita meraih satu lagi fase setingkat lebih tinggi dalam menjadi manusia bermakna.

Hal-hal yang Dibutuhkan

  1. Pikiran yang tetap sadar bahwa kita sedang mengakui emosi yang dirasakan. Pikiran yang netral, dan tidak memihak pada hal-hal yang bukan fakta. Pikiran yang tetap menjaga sadar bahwa kitalah yang bertanggung jawab atas hal-hal yang terjadi atas diri kita. Ketika merasa bahagia, atau senang, saya lah yang bertanggung jawab atas kesenangan saya. Begitupun sebaliknya, apabila saya merasa sedih, berarti saya juga lah yang bertanggung jawab atas kesedihan yang saya rasakan. Bukan menggantungkan perasaan dan tanggung jawab kepada kepada orang lain. Berupaya untuk terus mengendalikan pikiran sadar, daripada membiarkan emosi yang menguasai seluruh kesadaran kita.
  2. Cari dukungan. Mencari dukungan adalah memposisikan diri untuk tetap berada di lingkup orang-orang yang satu frekuensi dengan kita, atau yang memberikan dukungan pada kita dengan cinta. Hal ini juga berarti bahwa kita membatasi diri dari lingkungan atau orang-orang yang tidak produktif ( toxic boundaries )dalam perwujudan kesembuhan kita. Bukan menarik diri, melainkan selektif dalam memilih lingkungan yang mampu menghadirkan kebaharuan positif bagi perubahan diri.
  3. Jangan tergesa-gesa untuk ingin bisa memaafkan. Berikan ruang dan waktu pada diri kita untuk berproses. Kita hanya perlu berfokus pada kekinian dan di tempat sekarang berada ( here and now). Tidak berkutat pada masa lalu, atau sibuk dengan banyak resolusi untuk masa depan yang muluk-muluk. Masa depan harus punya cita-cita, tetapi tidak boleh berlebihan, sehingga terlalu banyak angan angan. Fokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang dan bagaimana caranya melakukannya.

Kesimpulan

  1. Bahwa luka yang kita simpan merupakan bentuk unfinished bussiness bisnis yang dapat mengganggu kesehatan mental kita. Bahkan, jika ia tetap tidak dituntaskan, ia akan menghambat pencapaian diri kita menjadi manusia yang bermakna pada masa berikutnya.
  2. Satu-satunya alasan mengapa luka masih tinggal di dalam diri kita adalah karena luka belum terekspresikan hingga tuntas pada masanya saat itu. Akibatnya, ia bertahan menjadi urusan tidak terselesaikan yang mengganggu hingga sekarang.
  3. Luka itu terjadi di masa lampau, jika dulu memang belum dikenali dan dipahami, Mari lakukan dan tuntaskan itu sekarang.
  4. Berdamai dengan luka yang tinggal di dalam hati, tersimpan dalam memori sebagai bentuk hal yang menyakitkan, bisa dilakukan penyembuhannya di mana saja. Asal, kita berorientasi pada masa sekarang dan disesuaikan dengan kondisi yang ada pada saat ini.
  5. Yang bertanggung jawab atas pilihan untuk tetap merasa terganggu dengan luka, atau memilih untuk berdamai dengannya, adalah diri kita sendiri. Walaupun dalam cara menyembuhkan luka tsb, kita mungkin saja membutuhkan support system dari orang lain serta lingkungan sekitar.
  6. Cara untuk berdamai dengan luka adalah dengan cara disadari dan diakui keberadaannya terlebih dahulu. Kemudian berusaha menerimanya sebagaimana kita menerima rasa bahagia dengan legowo. Ekspresikan hingga tuntas, temukan dan pilih cara yang paling aman dan nyaman sesuai dengan karakter diri. Setelah itu, bisa diungkapkan jika memang dibutuhkan, dan ditutup dengan memaafkan secara sempurna.

Jadi, yuk kita coba berjuang mencari kedamaian yg hakiki dalam hidup kita. Karena waktu tidak bisa diulang kembali, dan karena bahagia perlu diciptakan adanya. Mari menjadi manusia sehat yg paripurna, Saudara-saudariku💕

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *