Kalau Anak Nangis, Aku Kudu Piye sih Baiknya?

sumber gambar imperfectfamily.com


Tulisan ini merupakan kompilasi materi dari hasil kajian seminar parenting, bedah buku, dan dialog dengan psikolog spesialis pengasuhan anak. Dimulai dari permasalahan saya sendiri yang merasa makin stres ketika anak saya menangis dengan tiba-tiba pada waktu yang tidak terduga. Saat anak menangis, seringkali saya tidak tahu sebabnya dan saya juga tidak tahu bagaimana menyikapinya dengan tepat. Sehingga bukannya malah bisa tenang dan berpikir cara menghadapinya dengan baik, saya justru ikut panik dan makin tidak mampu mengendalikan cara bicara ataupun perilaku saya. Kadang malah jadi membentak, ikut teriak, mengancam, menakut-nakuti atau malah muncul keinginan untuk mencubit anak saya. Benar-benar sudah tidak mampu lagi mengendalikan emosi yang ikut naik ketika anak menangis kencang. Parah😔😭

4
Sudah banyak ahli memberi arahan bahwa menghadapi anak yang sedang emosi, tentu tidak boleh diimbangi dengan emosi juga. Jika emosi anak sedang meledak-ledak, maka orang tua harus lebih mampu mengendalikan diri agar mampu mengimbangi emosi anak dengan frekuensi yang berbeda. Harus di tingkat yang lebih lambat, dalam nada suara yang lebih rendah. Kalau bisa, malah harus disertai dengan pelukan dan penyampaian ungkapan cinta dan kasih sayang. Namun dalam hal memberikan pelukan ini, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan terlebih dahulu. Aturan pertamanya yaitu, pastikan kita mengenali dengan tepat, jenis tangisan yang diekspresikan oleh anak. Ada dua jenis tangisan yang diekspresikan oleh anak, yaitu tangisan sebagai bentuk luapan emosi dan tangisan anak sebagai strategi.


Menangis sebagai bentuk luapan emosi adalah jika anak merasa bahwa harapan yang diinginkannya tidak sesuai dengan kenyataan yang diterimanya. Misalnya, ia masih ingin ditemani ayahnya bermain, tapi nyatanya si ayah harus segera mandi dan berangkat sholat Jum'at, maka anak akan mengekspresikan emosi kecewanya dengan menangis. Di satu sisi dia belum terpuaskan waktu bersama-sama dengan ayahnya, namun ia belum memahami tentang konsep mengapa ayah tiba-tiba harus meninggalkannya. Jika dalam posisi ini, yang perlu diingat orang tua, emosi adalah suatu bentuk energi, yang menurut hukum fisika, energi itu kekal. Tidak bisa dihilangkan, tapi bisa diubah dalam bentuk lain. Oleh karena itu, energi hanya bisa disalurkan atau dipindahkan menjadi bentuk yang lain. Bukan dimusnahkan, atau ditumpuk dengan energi yang lain agar bisa berubah. Maka dalam hal ini, kita harus membelajarkan anak tentang bagaimana mengekspresikan atau menyalurkan rasa kecewa dengan aman dan nyaman. Ia perlu diberikan ruang dan kesempatan untuk belajar berbesar hati menerima rasa kecewa untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya, yang tidak selalu bisa memenuhi harapannya.


Menerima emosi yang dialami anak, berarti tidak terburu-buru memintanya untuk diam ketika menangis. Orang tua bisa terus mendampingi anak dengan berada di sampingnya, namun tidak melakukan apa-apa. Ibarat orang curhat, sejatinya ia hanya ingin untuk didengarkan. Hal itu disebut dengan pemberian respon pasif terhadap anak. Respon pasif benar-benar hanya memposisikan orang tua tetap berada di samping anak tanpa melakukan apa-apa. Respon pasif harus diakhiri jika anak meminta untuk diberikan “touch”, seperti minta dipeluk atau digendong. Hal ini menandakan bahwa anak memerlukan kehadiran dan keterlibatan orang tuanya lebih jauh ketika ia membebaskan rasa kecewanya. Memberikan “touch” tanpa berkata-kata selama beberapa saat merupakan proses transisi menuju dialog, ketika dirasa anak sudah mulai lebih tenang.

Membuka percakapan terhadap anak yang sedang menangis karena meluapkan emosi, harus diawali dengan kata-kata yang bersifat menunjukkan rasa sayang pada anak walaupun ia sedang kecewa, sedang marah, sedih, dan atau mengalami perasaan yangmenyakitkan lainnya. Orang tua perlu membuktikan pada anak bahwa kita menyayanginya, kita hadir di sampingnya ketika ia merasakan kesulitan, menerimanya, dan bahkan tidak meninggalkannya. Setelah itu, orang tua perlu memberikan "label" pada perasaan yang dialami anak sebagai bagian dari pengakuan atas keberadaan emosi yang dialami anak. Hal ini penting untuk mengajarkan pada mereka tentang mengenal dan memberi nama emosi yang sedang dirasakannya, serta disertai dengan penyebabnya yang jelas. Anak harus tahu bagaimana mengungkapkan dan mendeskripsikan perasaan serta peristiwa yang mendahuluinya dengan tepat. Di sinilah I message perlu diterapkan. “Nak, Mama sayang padamu. Boleh kok nangis sampai lega. Mama tahu adek sedang kecewa karena ayah berangkat sholat Jum'at waktu lagi main sama adek. Itu pasti ngga enak banget ya, ditinggal waktu lagi asik-asiknya. Ayah harus sholat karena itu wajib Nak. Jadi, Mama inginnya, nanti kalau sudah besar, adek juga ikut ayah sholat Jum'at ke masjid ya. Nah, Kalau nangisnya udah lega, ayok udahan trus main lagi sama Mama, oke?" Anak tahu tentang apa yang kita inginkan untuk ia lakukan setelah emosinya tersalurkan.


Pelukan disertai dengan pengungkapan kasih sayang dan cinta, penerimaan serta pelabelan perasaan perasaan dengan tepat, akan memiliki dampak yang luar biasa terhadap proses belajar anak dalam memaknai rasa kecewa atau perasaan negatif yang ia alami dalam kehidupannya. Hal ini menjadi bagian yang tidak boleh terlewatkan dalam membelajarkan anak tentang ketangguhan menghadapi dunia nyata. Efek jangka panjangnya, orang tua dapat membiasakan adanya perilaku konstruktif dalam mengekspresikan perasaan yang menyakitkan, mengelolanya, hingga terbentuk kebiasaan-kebiasaan berperilaku positif lainnya yang lebih bertahan lama dan menetap. Proses perlakuan terhadap tangisan anak karena emosi ini, dianggap berakhir ketika orang tua merasa anak betul-betul sudah “plong” dalam mengekspresikan perasaannya. Ya, tolak ukurnya adalah memakai rasa, dan lakukan secukupnya. Jika sudah selesai, tidak perlu dilebih-lebihkan dalam menanggapi emosinya.


Menangis jenis kedua adalah menangis karena strategi. Menangis jenis ini merupakan jenis cara yang dipilih anak (biasanya usianya sudah mulai besar) karena dia tau cara memanfaatkan rasa iba orang lain agar apa yang diinginkannya bisa tercapai. Tangisan jenis ini merupakan cara menjajah yang bisa dilakukan anak terhadap orang tua, yang dapat terpicu dari reaksi berlebihan yang sering ditunjukkan orang tua karena anak. Misalnya ketika awalnya anak betul-betul menangis karena emosi, namun setelah dirasa cukup, ia masih mendapatkan perhatian berlebihan, berarti hal itu menjadi bagian yang menyenangkan untuk bisa meminta apa saja yang dia inginkan. Apabila tidak diberikan, maka menangisnya akan menjadi-jadi, bahkan bisa menjadi tantrum. Menyikapi anak yang menagis karena strategi, orang tua hanya perlu ”cuek lahir batin”. Menganggap seolah-olah perilaku tersebut tidak terjadi sama sekali. Orang tua bisa menganggap seolah sedang tidak terjadi apa-apa, dan tetap melanjutkan aktifitas yang dikerjakannya. Dalam hal ini, tidak ada emosi yang perlu diurusi sehingga tidak perlu ada perhatian terhadapnya. Bagi anak, adanya perhatian adalah hal yang menyenangkan. Sehingga respon terhadap tangisannya merupakan bentuk perhatian orang tua yang ia manfaatkan untuk mendapatkan sesuatu. Orang tua tidak boleh terlena dengan ini karena anak menjadikan tangisan sebagai senjata. Perlu diingat bahwa tangisan karena strategi tidak akan bisa berubah atau kembali lagi menjadi tangisan karena emosi.


Tangisan karena emosi biasanya berbentuk letupan yang terjadi saat itu juga karena ia mengalami perasan yang tidak menyenangkan. Namun segera berakhir jika ia sudah merasa lega. Berbeda dengan tangisan karena strategi, tangisannya bisa berubah-ubah. Yang awalnya iramanya hanya pada merajuk, kemudian memelan, kemudian berteriak. Jika ia mendapat perhatian sedikit saja atas apa yang dilakukannya, anak akan mengubah lagi strategi tangisannya. Mungkin dengan menggelayut, menarik-narik, merajuk lebih keras, bernegosiasi, dst. Adanya “cuek lahir batin” artinya orang tua tidak perlu baper dan galau atas apa yang dilakukan anak. Orang tua juga tidak perlu membahas-bahas lagi tentang apa yang terjadi tadi. Misal ketika ayah pulang kerja, ibu bercerita “Itu lo yah si adek tadi masak nangis-nangis minta mainan di mall. Kan ibu malu diliyatin orang. Ya udah ibu mah santai aja, tetap ngga dibeliin” Kata-kata ibu menunjukkan adanya kerisauan yang ia alami ketika anak menangis minta mainan di mall. Walaupun mainan tetap tidak dibelikan, tapi anak jadi tahu bahwa strateginya tadi setidaknya membuat Ibu risau. Di lain waktu, ia akan menangis lagi dengan menggunakan strategi yang lain, agar kerisauan Ibu bisa kembali terusik dan akhirnya ia mendapatkan apa yang dia inginkan. Hal itu diterjemahkan sebagai kesempatan emas oleh anak. Digaris bawahi ya Mama Gengs, cuek lahir batin artinya sampai kapanpun, tidak ada bahasan kembali tentang perilaku menangis (karena strategi)-nya anak.
Akan jadi berbeda jika anak melakukan perilaku yang mebahayakan. Misalnya menyakiti dirinya sendiri ataupun orang lain. Inilah yang disebut tantrum.

Menangis karena emosi, berbentuk letupan yang bisa saja berlangsung dengan dahsyat, sehingga terkadang bisa diikuti dengan adanya perilaku menyakiti diri sendiri. Misalnya anak menangis sambil bergulung-gulung di lantai. Ketika anak melakukan hal ini, maka orang tua perlu mengamankan anak (sebagai pelakunya). Karena jenis tangisannya adalah karena emosi, orang tua tetap harus memberi kesempatan kepada anak untuk mengekspresikannya. Namun harus langsung disertai dengan pelukan yang kuat tapi longgar, yaitu tetap ada ruang untuk bergerak, namun tidak bisa untuk melukai dirinya sendiri. Ayah biasanya menjadi kunci dalam hal ini karena tenaganya mampu lebih menguasai gerakan-gerakan anak. Apabila energi marah anak sudah terluapkan, barulah ia bisa diajak berdialog dengan menerapkan kaidah-kaidah yang telah dijelaskan sebelumnya.


Perilaku berbahaya selanjutnya yang bisa dilakukan anak adalah menyakiti orang lain ketika dia sedang menangis. Namun yang perlu diingat, ketika dia menyakiti orang lain berarti dia sedang menggunakan strategi. Memukul ayah atau ibu, bahkan teman ataupun adik, karena dirasa menghalangi keinginannya tercapai. Dalam menyikapi hal ini, orang tua perlu segera mengamankan korbannya. Pindahkan korban dari jangkauan pelaku, dan segera cuek dengan perilaku tantrum anak. Pastikan tidak ada orang lain yang bisa ia jadikan korban, dan abaikan perilaku menangisnya. Anggap tidak terjadi apa-apa. Anak harus belajar, bahwa apa yang dilakukannya tidak akan bisa membuat iba orang lain dan menuruti keinginannya. Anak harus tahu bahwa dengan cara yang ia lakukan, tidak akan berhasil membuatnya mendapatkan perhatian.


Tahukah Gengs, mengapa kita harus punya cara ketika menghadapi anak yang sedang menangis? Mengapa kita harus memberinya ruang untuk mengungkapkan emosinya? Bukan buru-buru menyuruhnya diam? Baik untuk tangisan karena emosi ataupun tangisan karena strategi, yang orang tua lakukan adalah sama-sama memberi kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan hingga lega dan memberi pemahaman terhadapnya tentang apa yang dilakukannya. Anak harus dibiasakan diajak berpikir dan bicara, menjelaskan baik-baik apa yang dirasakannya secara jelas, dan tentang respon yang akan didapatkannya. Mengapa sesuai atau tidak sesuai dengan harapan atau keinginannya. Melatih anak untuk selalu mendeskripsikan tentang segala hal yang ia rasakan dalam dirinya berarti melatih kematangan otak neocortex (otak dewasanya). Otak yang mampu mengendalikan dua bagian otak lainnya. Yaitu otak reptil (otak primitif untuk pemenuhan kebutuhan dan bertahan hidup) serta otak limbik (otak perasaan dan emosi). Sejak dalam kandungan, otak yang berkembang paling awal adalah otak reptil. Setelah lahir akan disusul dengan kematangan limbik, yang kemudian baru otak neokorteksnya (otak rasional). FYI, otak neokorteks akan mencapai kematangan pada usia 25 tahun. Oleh karena itu, kita jadi tahu, mengapa kadang ABG masih belum mampu berpikir dengan rasional.


Setelah lahir ke dunia, anak akan belajar mematangkan otak reptil dan limbiknya terlebih dahulu. Otak yang memuat pemenuhan kebutuhan primer dan pemenuhan kebutuhan emosi ini harus berkembang secara matang. Karena apabila tidak matang, anak akan tumbuh menjadi pribadi insecure, kehilangan rasa percaya, mudah tersinggung, dsb. Maka ketika anak tantrum, otak yang aktif kala itu adalah otak reptil dan otak limbiknya. Dia perlu dipenuhi kebutuhan rasa aman dan kasih sayang nya. Dia perlu sosok orang lain yang menggunakan otak neokorteks dalam meresponnya. Yang hadir dengan tenang, kalem, dan rasional untuknya. Namun, jangan buru-buru anak diajak berdiskusi. Otak reptil dan limbik maunya diterima, dirangkul, dan didengarkan. Bukan disangkal atau diserang. “gitu aja kok marah sih. Gitu aja kok takut sih, kan ngga ada yang serem, ngapain kamu takut” Jangan ya Gengs.


Baru setelah kebutuhan akan penerimaan dan pengakuan dari otak reptil dan limbik sudah dipenuhi, anak bisa diajak bicara dengan lebih rasional. Bicara secara dewasa (rasional) dengan bahasa yang mampu ia terima sesuai dengan usianya. Bahasa otak reptil dan limbik itu bahasa fisik. Sedangkan neokorteks itu bahasanya verbal. Makanya anak mengungkapkan kebutuhan otak reptil dan limbiknya menggunakan bahasa verbal seperti menangis, memukul, bergulung-gulung, dsb. Karena memang tugas orang tua adalah membantu anak mengalihbahasakan dari bahasa fisik menuju bahasa yang lebih verbal. Mengapa? Agar anak terbiasa berkomunikasi, memverbalkan apa yang ia rasakan di dalam dirinya, bukan memendam atau menumpuk segalanya di dalam hati yang justru menjadi sampah emosi untuk dirinya sendiri. Jelas itu bukan bagian dari manusia sehat ya.


Secara pribadi, saya telah berusaha menerapkan apa yang saya ketahui ini dalam kehidupan sehari-hari ketika menghadapi anak yang sedang menangis. Saya terlebih dahulu harus memastikan keadaan emosi diri saya sendiri dalam kondisi stabil (bernafas secara sadar, seperti yang telah saya tulis di artikel sebelumnya) dan berusaha menterjemahkan dengan tepat apakah anak saya sedang menangis karena emosi ataukah sedang menangis karena strategi. Baru kemudian saya dapat menentukan langkah yang tepat untuk menyikapi anak saya. Setidaknya, saat ini saya merasa lebih mampu stay calm dan mengendalikan emosi saya sendiri ketika menghadapi anak yang sedang menangis. Rasanya segala sesuatu menjadi lebih mudah dan semakin bahagia.

Sekian dulu yang bisa saya bagikan. Jika ada pertanyaan, jangan lupa tulis di kolom komentar ya. Terimakasih sudah mampir^^

2 pemikiran pada “Kalau Anak Nangis, Aku Kudu Piye sih Baiknya?

  1. Subhanallah, bermanfaat sekali bunda.
    tiap hari keraskan hal yg sama ky gitu dan nggak tau harus ngapain sekarng jadi ada pencerahan.
    terimakasih bunda Lila. semoga sehat selalu dan nggak capek buat menyebar energi positif buat bunda2 lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *