Marah pun Juga Harus Elegan!

Sumber Gambar: Shutterstock

Beranjak dari pertanyaan seorang teman, dia bertanya pada saya “Mbak, gimana sih caranya bedain marah yang boleh sama marah yang ga boleh?”

Tentu bukan tanpa alasan mengapa tiba-tiba ada teman yang bertanya pada saya mengenai hal ini. Kami sedang membahas hasil dari kegiatan rutin pertemuan komunitas parenting yang kebetulan saat itu dia berhalangan hadir. Tentu pada umumnya kita sudah tau kan ya, marah yang boleh tentu ada caranya. Tapi kalau marah yang barbar, marah yang destruktif, marah yang cenderung membahayakan diri sendiri atau orang lain, bahkan mengancam keselamatan dan jiwa itu pasti betul-betul dilarang. Nah dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas seperti kata pada umumnya itu. Saya ingin membahas marah yang diijinkan, marah yang wajar, tepat, dan menuntaskan masalah. Bahasa saya, marah itu harus ELEGAN.


Saya bukan pakar emosi, bukan juga psikolog ataupun psikiater. Tulisan ini merupakan hasil dari elaborasi pengetahuan lama sekaligus baru, baik ketika masih kuliah hingga pengetahuan dari banyak mengikuti kegiatan parenting selama ini. Ditambahkan pula oleh pengalaman-pengalaman pada praktik baik yang saya terapkan dalam hidup sehari-hari. Baik, inilah pendahuluan yang panjang, terimakasih dulu buat para pembaca yang membaca tulisan ini. Saya sangat terbuka untuk diberikan tanggapan, dan sangat oke jika menghendaki diskusi lebih lanjut.

Jadi, marah itu wajar ya Gengs, soalnya kita manusia memang dianugerahi sesuatu yang namanya emosi dan nafsu. Nah marah itu salah satu jenis emosi yang kebanyakan mengkategorikan sebagai emosi negatif. Mengapa? Karena dibandingkannya adalah dengan emosi bahagia, emosi sedang penuh syukur, dsb. Sebenarnya kalau saya pribadi, masih kurang sepakat apabila dikategorikan sebagai emosi negatif. Karena pada dasarnya emosi itu adalah jenis respon terhadap sesuatu yang terjadi di luar diri kita. Apakah mungkin, ketika kita mendengar atau melihat sesuatu yang melanggar norma hukum misalnya, kita tetap tersenyum dan bersyukur atas hal tersebut? Justru aneh bukan. Memang sewajarnya marah harus kita miliki. Karena kita manusia biasa yang mampu merespon dengan baik. Nurani masih bisa membedakan mana yang baik dan buruk, dan respon perilaku kita mendukung untuk hal tersebut. Namun, wajar di sini maksudnya adalah bagaimana menempatkan emosi pada porsi yang tepat. Baik cara mengekspresikan, hingga menuntaskan apa yang memicu emosi negatif bisa terjadi.

FYI, marah ataupun emosi lainnya (sedih, bahagia, cemas, penuh syukur, dst) perlu dan harus diekspresikan ya Gengs. Setelah diekspresikan, hal berikutnya adalah harus dituntaskan. Dalam tata cara pengekspresian dan penuntasan emosi, hal ini sifatnya personal. Sangat relatif, dan berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Kalau emosi bahagia misalnya kita ekspresikan dengan memeluk seseorang atau benda yang kita sayang misalnya, maka setelah itu harus dituntaskan; bisa saja dengan memberi reward pada diri sendiri. Misalnya boleh beli makanan yang disuka atau banyak lagi cara lainnya. Sama halnya pula, pada emosi marah, kita perlu tau cara mengekspresikan yang tepat, yang nyaman untuk diri sendiri. Misalnya, dengan berpindah dari tempat semula, makan dulu, atau pergi menyendiri dulu juga boleh. Namun, hal yang berbeda dengan sebelumnya, bahwa satu-satunya cara untuk MENUNTASKAN marah adalah sama, yaitu hanya dengan cara DIKOMUNIKASIKAN. Untuk hal satu ini, tidak bisa dipilih ya Gengs. Hanya dengan dikomunikasikan, emosi marah bisa tuntas. Belajar mengkomunikasikan marah inilah yang sering alpa. Kita harus belajar mengkomunikasikan bahwa saya sedang marah dan ingin menyelesaikan masalah yang membuatku marah.

Seringkali, marah menjadi emosi yang otomatis membuat kita merasa panas dan ingin melampiaskan secara langsung saat itu juga. Memilih diam, ingin memukul barang, beristighfar (ini bagus ya), ingin teriak, ingin nangis, dan banyak lagi. Namun, sebenarnya trik yang pertama bisa kita lakukan ketika marah, bisa dilakukan di segala kondisi dan situasi adalah BERNAFAS. Ya, bernafaslah! Bernafas yang berbeda dari biasanya, yaitu bernafas secara sadar. Selama hidup kita pasti bernafas. Oleh karena itu, bernafas menjadi hal yang tidak kita sadari, karena berlangsung secara otomatis. Dalam bernafas secara sadar, artinya kita benar-benar berusaha merasakan nafas yang kita hirup dan kita keluarkan dari hidung. Setiap tarikan dan hembusannya, coba benar-benar kita rasakan dan kita nikmati proses tersebut, hingga kita merasa benar-benar sadar sedang bernafas. Ada udara yang kita hirup dan kita hembuskan melalui alat pernafasan kita. Ketika sudah benar-benar mampu merasakan ritme bernafas kita, baru dipersilakan untuk menyalurkan atau mengekspresikan marah yang tadinya dirasakan. Misal ketika ingin memukul barang, tentu kita sudah bisa memilih barang apa yang tepat dan tidak berbahaya. Ketika ingin teriak, kita pasti lebih bisa memilih kata-kata yang baik daripada tidak baik untuk diungkapkan, ketika ingin berpindah tempat kita pasti lebih bisa melangkah dengan lebih pelan dan hati-hati.

Sama seperti sumbu petasan, jika sumbunya dibuat panjang, maka ada kemungkinan api-nya bisa padam di tengah jalan, sehingga petasannya tidak jadi meledak. Di situlah gunanya bernafas secara sadar, karena kita memberikan ruang dan waktu untuk pikiran yang lebih rasional bekerja, dibandingkan dengan emosi yang meluap-luap dan menginginkan untuk bertindak agresif. Bernafas secara sadar, lakukan dengan duduk ketika tadinya kita berdiri, berbaring ketika tadinya kita duduk (seperti ajaran agama saya). Jika tidak memungkinkan untuk berbaring, kita bisa melakukan rileksasi ringan, seperti menangkupkan kedua tangan sembari menselonjorkan kaki. Hal ini akan memberikan efek rileks dan lebih nyaman untuk bernafas secara sadar. Setelah merasa baikan, segera ekspresikan marah dengan hal yang membuat kita nyaman. Selama ini, ketika marah, saya lebih memilih melakukan nafas secara sadar, dan melakukan kegiatan ringan yang hasilnya bisa nampak segera. Misalnya mencuci piring. Saya memang diam, karena saya sedang melakukan nafas secara sadar, sambil mencuci piring. Ketika saya merasa lebih tenang, saya juga bisa melihat hasil pekerjaan saya, piring kotor sudah bersih dan nampak rapi tertata di rak, hal ini membuat saya semakin lega. Baru setelah itu, saya merasa siap untuk menuntaskan masalah apa yang menyebabkan saya marah.

Menuntaskan marah hanya bisa dilakukan dengan komunikasi. Jika saya marah dengan pasangan misalnya, saya akan menyampaikan bahwa saya tadi marah karena dia membentak saya atas kejadian yang tidak saya sengaja misalnya. Saya akan menjelaskan perasaan yang saya alami (kemarahan saya) dan alasannya secara jelas. Setelah itu saya akan menyampaikan apa yang sebenarnya saya harapkan agar kemarahan saya bisa tuntas. Sederhananya, komunikasi yang kita sampaikan adalah tentang perasaan yang kita rasakan disertai alasannya, kemudian dilanjutkan dengan harapan yang kita inginkan. Bukan menyalah-nyalahkan ya Gengs. Berikut contoh rangkaian kalimat yang sering saya ucapkan untuk menuntaskan kemarahan yang saya alami. “Mas, sebenarnya tadi aku marah lo sama Mas {rumusan saya plus perasaan}. Soalnya Mas bentakin aku padahal aku ngga sengaja nyenggol tole (sebutan anak laki-laki kami) sampai dia hampir jatuh. Tadi aku lagi tergesa-gesa ambil barang di atas almari, sampai nggak aware ada yole di sampingku {rumusan alasan secara jelas}. Pengenku itu, mbok ya tolong diperhatiin dulu kejadiannya, jadi Mas ngga perlu ngegas ngomong sama aku. Bisa kan ngingetin pelan-pelan. Toh anaknya juga ngga apa-apa {rumusan harapan}”

Kali pertama mempraktikkan rumusan komunikasi untuk menuntaskan emosi, pasti bahasanya kaku. Namun ketika sudah terbiasa, pasti akan jauh lebih nyaman karena kita akan menemukan bahasa cinta kita masing-masing tanpa mengurangi esensi I message tersebut. I message merupakan ketrampilan dasar dalam berkomunikasi, yang sebenarnya sangat efektif untuk menuntaskan masalah. Karena kita akan belajar selektif dalam menyampaikan bahasa, dan lebih jelas tersampaikan pada penerima informasinya. Sekali lagi, rumusan pesan saya atau I message adalah terdiri atas SAYA + PERASAAN YANG DIALAMI + ALASAN + (lanjutkan) HARAPAN. Pastikan ada harapan yang kita sampaikan, tentang suatu perilaku yang kita inginkan untuk dilakukan daripada terus berkutat mengungkit-ungkit kesalahan yang menyebabkan kita marah atau sakit hati.

Jadi pada kesimpulannya, untuk membedakan marah yang boleh dan marah yang tidak boleh, kita cukup menilai dulu tentang reaksi atau respon yang sering kita lakukan ketika marah ya Gengs. Jika marah kita sudah terekspresikan secara nyaman dan dituntaskan dengan baik, berarti itu kategori marah yang “okay”. Jika marah masih suka dipendam atau selama ini belum menemukan cara untuk mengekspresikan marah secara tepat dan nyaman, atau juga belum dituntaskan dengan baik, maka boleh jadi marahnya masih perlu dipelajari dan diperbaiki ya. Ukurannya adalah kelegaan yang kita rasakan setelah pengekspresian dan penuntasan emosi kita lakukan. Coba deh dipraktikkan. Kalau ada yang mau didiskusikan, ayok!^^

Tolong diingat, emosi apa saja perlu tuntas, agar tidak menjadi sampah yang semakin membebani psikologis kita. Banyak yang lebih berbahaya akibat sampah emosi yang tidak tuntas, atau tetap terpendam rapi dalam hati. Padahal emosi adalah salah satu bentuk energi yang hanya bisa dipindahkan atau diubah bentuknya. Bukan dilenyapkan atau malah dilampiaskan sekuat-kuatnya. Tetap ya, ada batasan norma Tuhan dan norma etika, juga nilai kebenaran yang harus selalu dijunjung tinggi.

Sekian tulisan kali ini. Mari menjadi lebih baik, dimulai dari belajar marah secara elegan! Semangat Kaka!!! Tulisan ini terinspirasi dari banyak ahli, terimakasih salah satunya pada Mas Angga Setyawan, penulis buku Anak Juga Manusia, Ibu Najeela Shihab, penggagas komunitas Keluarga Kita, dan para pakar teori ketrampilan dasar komunikasi bidang ilmu Bimbingan dan Konseling.

Salam hormat selalu dari Saya, Ummu Razes.

2 pemikiran pada “Marah pun Juga Harus Elegan!

  1. Makasih ulasannya ummu razes…. Jd Nambah lagi nih pengalamannya tentg management emosi…. Makasih ya… N Semangat selalu 😍😍😍. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *