Konselor, Psikolog, dan Psikiater; Sebuah Tinjauan Perbedaan dari Perspektif Kualifikasi Akademik dan Ranah Wewenang Kinerjanya Secara Umum

Berawal dari pertanyaan seorang teman, saya menemukan ide untuk menulis dengan tema ini. Perlu saya sebutkan bahwa tulisan ini, saya rujuk dari kacamata saya sebagai lulusan jurusan bimbingan dan konseling salah satu Universitas Negeri di Indonesia. Mengapa perlu saya sebutkan? agar kredibilitas tulisan saya ini bisa dipertanggungjawabkan. Saya merupakan bagian dari apa yang saya tuliskan, sehingga saya sangat membuka kesempatan kepada siapa saja untuk mengkritisi tulisan saya demi kesempurnaan tulisan ini. Cukup ya intronya😁✌

Konselor, psikolog, dan psikiater, merupakan profesi yang masih sangat sering menuai ambiguitas. Sebagian besar masyarakat masih banyak yang menganggap sama, atau bahkan banyak yang belum tau sehingga memandang sebelah mata pada salah satunya (atau semuanya ya, mungkin😅). Banyaknya oknum yang mengatasnamakan profesi ini, semakin mencemari nama baik profesi kami ini di mata masyarakat. Jadi sudah sangat wajar apabila keberadaan kami belum banyak dikenal atau dipahami sebagai profesi yang juga dibutuhkan oleh publik. Apalagi di jaman berkembang yang mendudukkan masyarakat menjadi rentan terkena masalah yang merujuk pada kondisi sakit mental (mental illness), seperti sekarang ini.

Pada kenyataannya, kami bertiga ( konselor, psikolog, dan psikiater) pada dasarnya adalah profesi dalam bidang kemanusiaan yang memiliki tugas dan wewenang untuk membantu orang lain mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Membantu mengatasi masalah yang sedang dihadapi, dan berupaya pada pengoptimalisasian kesehatan mental (jiwa) seseorang. Bisa disebutkan bahwa kami juga menjadi bagian dari praktisi kesehatan mental. Namun, dalam memgemban tugas sebagai helper profesional tersebut, kami memiliki kualifikasi kompetensi, standar kerja, fungsi, dan pendekatan yang berbeda.

KONSELOR – bergelar Kons. / M.A. in counseling / Gelar Kons. merupakan gelar yang diperoleh setelah menempuh pendidikan profesi konselor (PPK) di Indonesia. M.A (magister of art) in counseling merupakan gelar yang diberikan pada sarjana yang menempuh studi lanjut tentang konseling di luar negeri. Pendidikan profesi konselor bisa ditempuh setelah menamatkan pendidikan strata satu dan atau magister untuk jurusan bimbingan dan konseling (BK). Lulusan S1 BK bergelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), sedangkan lulusan S2 BK bergelar M. Pd. Jika mereka menambah pendidikan profesi konselor, maka gelarnya akan bertambah menjadi S.Pd., Kons; atau M. Pd., Kons. Jika tidak menempuh pendidikan profesi, bisakah mereka disebut sebagai konselor?

Dalam permendikbud no 27 tahun 2008, disebutkan bahwa kualifikasi akademik seseorang yang bisa disebut sebagai konselor adalah mereka yang telah menempuh pendidikan S1 dalam bidang bimbingan dan konseling serta menamatkan pendidikan profesi konselor. Jadi, tidak heran, jika 2 kualifikasi akademik ini belum dipenuhi, maka belum bisa disebut sebagai konselor. Di Indonesia, peraturan yang sudah tercantum dengan jelas tentang keberadaan konselor, adalah peraturan yang dibawahi oleh peraturan tentang sistem pendidikan nasional. Jadi ranah penyebutan konselor di sini betul betul dikhususkan tentang keberadaan konselor pada jalur pendidikan formal. Maka tidak heran mengapa sarjana S1 BK menjadi syarat utama dan pertama, karena di sepanjang 8 semester pendidikan kami, 4 semester di dalamnya diisi penuh tentang berbagai pendekatan dan teknik agar kami terampil mengadakan konseling untuk konseli (counselee). Oleh karena itu, disebutkan pula bahwa konselor adalah seorang ahli yang menyelenggarakan konseling kepada konseli, dengan menggunakan pendekatan dan ketrampilan profesional. Jadi, tidak sembarang orang bisa disebut sebagai konselor ya. Bagaimana dengan lulusan S2 BK yang tidak menempuh pendidikan profesi konselor? saya suka menyebut mereka (sebagaimana diperkenalkan oleh dosen saya dulu) sebagai pendidik psikologis atau psychoeducator. Apakah itu? Yaitu pakar dan praktisi di bidang bimbingan dan konseling yang dapat melaksanakan tugas-tugas profesional sebagai tenaga pengajar, praktisi, peneliti, dan pengembang di lingkungan pendidikan dan bimbingan.

Konselor dibekali ilmu tentang jiwa (psychology) dan ilmu perilaku manusia. Memang satu rumpun dengan psikologi. Namun, karena profesi konselor (yang sudah terakui secara yuridis) di Indonesia masih dikhususkan dalam pendidikan, maka dalam masa studi strata satu jurusan BK, kami juga dibekali pengetahuan tentang dunia pendidikan, administrasi pengajaran, serta tentang manajemen kelas. Konselor memang menjadi guru BK di sekolah. Dia adalah pengajar psikologis untuk siswa, yang sekaligus menjadi penolong mereka jika mereka menemui hambatan dalam proses perkembangannya mengarungi kehidupan di masa masa sekolahnya. Fokus kerja konselor ialah kepada individu yang normal, namun bermasalah. Artinya individu yang menemui hambatan atau tantangan dalam hidupnya, namun tidak sampai menyebabkan gangguan jiwa yang serius, seperti: skizofrenia, depresi dengan gejala psikotik, atau gangguan-gangguan ekstrim lainnya. Individu yang mengalami gangguan jiwa serius, sudah tidak dapat digolongkan dalam kategori individu normal, dan sudah barang tentu bukan wewenang konselor lagi dalam membantu individu dengan gejala seperti ini.

Konselor meyakini penuh terhadap adanya potensi konseli untuk bisa menentukan arah hidupnya, serta mengambil keputusan terbaik untuk dirinya sendiri. Sehingga, dengan segala ketrampilan dan teknik yang dikuasainya, dalam penyelenggaraan konseling, konselor akan membantu semaksimal mungkin agar konseli bisa menemukan keberhargaan dirinya, serta mendapatkan solusi terbaik atas permasalahannya sendiri. Bukan dinasehati. Konselor bukan penasehat, konselor bukan pula dokter yang punya resep. Konselor adalah pendengar, fasilitator, dan teman untuk mengungkap keberartian seseorang agar mampu bahagia menjalani hidup yang terus berjalan. Jika dalam proses konseling ini ditemui individu yang mengalami gangguan jiwa (individu tidak normal), konselor akan mengalihtangankan penanganannya kepada psikolog atau psikiater. Tergantung pada jenis gangguan jiwa yang dialami. Di sinilah sebenarnya letak kerjasama atau kolaborasi yanag sangat mungkin dilakukan oleh sesama praktisi kesehatan mental ini.

Sebenarnya, tugas guru BK yang utama dalam era perkembangan ini, bukanlah pada konseling. Tapi lebih ditekankan pada aspek bimbingan yang fungsinya sebagai pencegah terjadinya masalah, dan lebih mengembangkan potensi optimal untuk seluruh siswa. Namun, pada tulisan ini saya bahas hanya pada aspek konseling agar jelas perbedaan wewenang kerjanya antara konselor, psikolog, dan psikiater.

PSIKOLOG – bergelar M.Psi / Psi. (psikolog). Psikolog adalah sarjana psikologi (S1), kemudian menempuh pendidikan profesi pada kurikulum lama; atau seseorang yang telah lulus dari magister profesi psikologi S2 pada kurikulum baru (wikipedia.org). Jadi, seseorang yang baru lulus S1 psikologi, belum bisa disebut sebagai psikolog ya. Mereka disebut sebagai ilmuwan psikologi. Ilmuwan psikologi boleh melakukan penelitian; memberikan intervensi sosial dalam area sebatas kompetensinya, menjadi konsultan SDM (HRD), menjadi asisten psikolog, perancang pengukuran perilaku, dll. Sedangkan psikolog, kode etik himpunan psikologi mengemukakan bahwa mereka dapat memberikan layanan sebagaimana yang dilakukan oleh ilmuwan psikologi, serta secara khusus dapat melakukan praktik praktik psikologi, setelah mendapatkan izin praktik sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan (wikipedia.org). Penulisan sebutan Psikolog adalah dituliskan di belakang nama dengan kata Psikolog lengkap diawali dengan huruf besar dan tidak boleh disingkat. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kebingungan di masyarakat dalam membedakan psikolog dan ilmuwan psikologi. Contoh: Dr. Rhazes Daud, Psikolog. Dan ini merupakan contoh penulisan lulusan S1 psikologi (ilmuwan psikologi): Rhazes Daud, S. Psi.

Selama studinya, para psikolog dibekali dengan berbagai teori tentang manusia, dinamika perkembangan manusia, serta kemampuan untuk menganalisis dan melakukan psikoterapi dalam membantu seseorang menyelesaikan masalahnya. Dalam membantu menganalisis gangguan yang dialami kliennya, psikolog menyelidiki penyebab gejala psikologi dari sisi non-medis seperti pola asuh, susunan keluarga, tumbuh kembang masa kanak-kanak hingga dewasa, dan pengaruh lingkungan sosial. Asumsi dasar yang menjadi landasan kerja psikolog adalah bahwa setiap manusia memiliki kapasitas untuk berpikir dan menentukan apa yang terbaik bagi dirinya, sehingga peran psikolog adalah merefleksikan, memberikan pandangan, membuka wawasan, bahkan dalam beberapa kasus sampai mengarahkan klien untuk dapat menyelesaikan masalahnya. Tidak ada obat-obatan yang dipakai selain kata-kata. Di samping itu, psikolog juga berkompeten untuk melakukan dan menginterpretasikan berbagai macam tes psikologi, seperti tes IQ, tes minat bakat, tes kepribadian untuk membuat profil klinis, serta berbagai macam tes lainnya. Tes tersebut bisa dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memberikan gambaran psikologis tentang kliennya (experiencing-life.com).

PSIKIATER – bergelar dr. dan Sp.KJ (Spesialis Kesehatan Jiwa) Psikiater adalah lulusan dari Fakultas Kedokteran atau Sekolah Kedokteran yang mengambil spesialisasi kedokteran jiwa. Seorang psikiater menyelidiki penyebab gejala psikologi dari sisi medis dan dari sisi kelainan susunan saraf para penderita penyakit jiwa. Latar belakang psikiater adalah seorang dokter, sehingga psikiater dapat memberikan resep obat kepada pasien. Selain itu, penanganan psikiatri dilakukan dengan empat cara yang disingkat BPSS, yaitu Biologic (obat-obatan), Psychologic (konsultasi), social (penanganan sosial), dan spiritual (agama). Gelar yang didapatkan untuk bisa membuka praktik psikiater adalah SpKJ (wikipedia.org). Contoh, seseorang yang sedang depresi perlu diberikan obat-obatan anti depresan untuk mengimbangi kadar neurotransmiter serotonin yang menjadi tidak seimbang, sebagai reaksi tubuh akibat kondisi depresi tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa asumsi dasar yang menjadi landasan kerja seorang psikiater ialah bahwa masalah kejiwaan manusia disebabkan karena ketidakseimbangan fungsi-fungsi fisiologis (neurotransmiter, hormon, dsb.). Oleh karenanya, seorang psikiater dapat menggunakan obat-obatan untuk membantu seseorang mengatasi masalah kejiwaannya – walaupun tidak harus selalu menggunakan obat-obatan. Beberapa psikiater juga berkompeten untuk memberikan tes-tes psikologi tertentu, seperti MMPI dan berbagai tes neuropsikologi untuk melihat keberfungsian syaraf serta anomali atau adaptabilitas seseorang dalam masyarakatnya (experiencing-life.com).

Konselor, psikolog, dan psikiater adalah tiga jenis helping profession dalam bidang kesehatan mental. Sangatlah potensial bagi ketiganya untuk mengadakan kolaborasi, sesuai dengan kebutuhan dan gejala-gejala yang ditunjukkan klien. Jika siswa di sekolah mengalami kecemasan ketika akan menghadapi ujian akhir misalnya. Apabila kecemasan tersebut masih dalam tahap sadar dan tidak mengganggu kestabilan jiwanya, maka konselor masih bisa memberikan bantuan kepada siswa ybs, menggunakan teknik-teknik konseling tertentu untuk mengurangi kecemasannya. Namun apabila kecemasan yang dialami sudah sangat parah, hingga menyebabkan gangguan jiwa atau membutuhkan pemahaman kepribadian mendalam untuk menyelesaikannya, maka konselor perlu bekerjasama dengan psikolog untuk menanganinya. Apabila ternyata kecemasan tersebut sampai memicu pada halusinasi-halusinasi tertentu, maka bukan tidak mungkin diperlukan bantuan seorang psikiater terlebih dahulu. Mungkin saja kecemasan tersebut perlu diberikan obat-obatan tertentu sesuai dengan hasil pemeriksaan psikiater. Setelah dinyatakan oke oleh psikiater, siswa akan dikembalikan kepada konselor. Konselor akan mengadakan konseling lanjutan terhadap siswa, dengan harapan agar ia tetap mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri (dalam contoh ini adalah tentang menghadapi ujian). Tentu hal ini dapat terlaksana dengan baik jika siswa sudah mampu untuk diajak berbicara dan berpikir secara normal (keadaan jiwa yang stabil). Maka, ketika kita mengalami suatu permasalahan tertentu dan membutuhkan bantuan, sangat penting untuk menyadarinya, menerimanya, dan tidak sungkan menemui pihak yang berkompeten untuk membantu kita. Sangatlah bijak jika kita bisa mengenal dan menganalisis terlebih dulu, jenis-jenis gangguan yang kita alami, dan kepada siapa kita perlu meminta bantuan, agar semuanya bisa berfungsi secara optimal.

Di negara barat, profesi konselor sudah lebih luas dan beragam. Ada konselor pernikahan, konselor keluarga, konselor vokasional, dan lain banyak lagi. Tentu dibarengi dengan pendidikan dan pelatihan kompetensinya yang mumpuni juga. Jika kita sering mendengar ada istilah konselor laktasi, konselor gizi, dll berarti memang beliau memang ahli pada bidang yang disebutkan. Silakan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin menekankan bahwa tiap ahli punya kualifikasi kompetensi profesional masing masing. Bukan berarti profesi A lebih baik atau lebih buruk dibandingkan profesi yang lain ya. Ranah wewenang kerja yang berbeda beda, membuat keberadaan para helper ini menjadi saling melengkapi. Kesembuhan dan kebahagiaan orang lain menjadi ganjaran terindah bagi kami❤ Terimakasih sudah mampir, sampai jumpa☺️☺️✋✋✋

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *