Bodoamat, Bukan Amatbodo😁

Lagi jadi trend nih. Perlunya bodoamat untuk lebih meningkatkan gairah hidup atau bahasa sadisnya biar tetap bahagia😁. Sebenarnya seni berperilaku dalam koridor topik bodoamat ini memang tidak ada parameter benar dan salahnya. Namun yang kerap terjadi, dijunjung tingginya sikap bodoamat, melupakan nilai nilai adat ketimuran kita, seakan2 kita adalah makhluk individu yang bahkan sama sekali tidak membutuhkan orang lain dalam bentuk apapun. Kenapa kenapa?? Karena kadang menjadi kebablasan..tidak mau tau tentang apa yag orang lain rasakan, dan juga apa yang orang lain katakan. Bahasa Italinya, kebacut🤣

Sudah menjadi naluri manusia, akan mendekati segala apa2 yang membuat dia bahagia, dan menjauhi dari segala apa2 yang membuatnya tidak bahagia. Namun, keterlaluan dalam mengikuti naluri hedonis ini, menjadikan sering malah membuat orang lupa diri bahwa ia hidup di dunia, dengan banyak orang lain di sekitarnya. Dunia ini bukan hanya untuk dirinya sendiri. Melainkan ada banyak manusia, yang punya hak dan kewajiban masing masing untuk dijalani.

Gengs, sangat boleh mengejar apa yang kita jadikan tolak ukur bahagia. Sangat boleh melakukan apa saja yang kita mau untuk tetap menjaga kewarasan mental. Namun namuun, tolong dijaga betul, bahwa ada hak orang lain pula dalam lingkungan yang sedang kita tempati. Kalau Anda suka karaokean di rumah, pastikan waktu dan durasinya tidak mengganggu tetangga sebelah. Kalau ingin berlama lama, silakan pasang perdam bunyi agar tetangga sebelah juga tetap bisa beristirahat. Kita tidak tau bukan, kebutuhan apa yang sedang juga diperjuangkan oleh orang lain.

Jika seandainya tak biasa berbicara pelan di rumah, dan itu sudah menjadi bagian yang diterima di dalam keluargamu, tolong jangan bawa kebiasaan itu ketika berada di rumah orang lain misalnya. Bukan hanya perlu diperhatikan pada siapa kita bicara, perhatikan tempat dan kondisinya juga. Di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung. Wes itu the best. Ikuti itu aja☺️

Biasanya bodoamat auto kita jadikan senjata ketika ada orang lain yang mengkritik sampai membuat sakit hati. Biasanya juga dilakukan ketika ada komentar orang yang melukai hati. Betul tidak, Gengs? Saya betul betul bisa memahami bagaimana rasanya diberikan kritik yang tidak membangun oleh orang lain. Sebagai manusia normal, mekanisme pertahanan diri kita akan langsung pasang muka ketika hal yang kita anggap sangat pribadi, sangat normal, sangat individualis, terbentur dengan nilai atau pandangan hidup orang lain yang jauh berbeda. Respon tidak terima pasti akan hadir dalam detik pertama saat itu juga. Wajar, itu sangat manusiawi. Tapi sebelum kita memilih mau bodoamat, coba ditambahkan satu tahap lagi dalam cara berpikir otak kita. Apakah itu? Kita perlu meletakkan saringan. Iya saringan.

Kalau di dapur, saringan buat memisahkan ampas dengan cairan inti, bukan. Cairan intinya dipakai, ampasnya dibuang. Sama pula dengan apa yang terjadi dalam otak kita Gengs. Untuk apa saja yang jadi ampas, yang memang tidak baik, mari dibuang. Tapi apa apa yang baik, coba direnungkan terlebih dulu. Apakah memang perlu ada yang diperbaiki, atau memang ada perilaku kita yang kurang patut sehingga perlu dihilangkan. Kita kan manusia, tempatnya salah dan lupa. Sudah barang tentu, perlu kontrol baik dari internal maupun eksternal. Namun karena sifat manusiawi kita pula, kontrol eksternal sering diartikan lebih menyakitkan sehingga kebanyakan langsung ditolak begitu saja. Ini gengs yang jadi bahaya.

Bodoamat itu bisa berbentuk konstruktif demi kesehatan mental, namun juga bisa destruktif pada progesifitas diri. Bodoamat yang konstruktif sangat perlu kita lakukan agar kita nggak gampang ngenes dan kepikiran ketika mendapat kritikan dari orang lain. Tipikal tipikal pemikir, sangat perlu melatih ketrampilan ini agar tidak mengutuk diri ketika mendapati dirinya sedang diberikan masukan apalagi kritikan dari orang lain. Gimana caranya? Yakinkan bahwa dirimu telah bersikap dan bertutur dalam koridor norma yang berlaku, sesuai dengan budaya setempat, dan tidak menyakiti siapapun. Harus disadari bahwa kita tidak mungkin bisa membahagiakan semua orang, dan ini bukan suatu kesalahan.

Sudah barang tentu kita memperjuangkan kebahagiaan kita sendiri bukan, demikian juga orang lain pasti juga sedang memperjuangkan kebahagiaannya. Dan untuk hal ini, masing masing kita tidak saling tau, kan. Jadi sangat sah untuk tetap berfokus pada segala yang kita perjuangkan, untuk kebahagiaan diri kita sendiri. Bukan ajang untuk membukti buktikan pada orang lain ya. Nanti capek sendiri. Jika selama ini kita sibuk memberikan pembuktian pembuktian demi sebuah pengakuan dari orang lain, inilah yang melelahkan fisik dan psikis kita, teman teman. Jadikan diri kita kemarin menjadi tolak ukur diri kita sendiri hari ini dan esok hari. Maka kesimpulannya, coba latihkan ketrampilan ini dengan cara membayangkan ada banyak ampas ampas di saringan kita, yang tidak kita perlukan, dan mari segera dibuang di tempat sampah. Selesai😘

Nah ini, kebalikan dari bodoamat yang konstruktif, yaitu bodoamat yang destruktif. Bodoamat yang destruktif akan menuju pada kebacut, yang akan melewatkan kesempatan menuju lebih baik menjadi sering terabaikan. Jangan sampai kita jadi amatbodo pada perihal ini yaa. Karena menjadi lebih baik itu tidak ada sudahnya. Kalau memang ada banyak hal positif yang disampaikan oleh orang lain demi kebaikan kita, jadikan itu sebagai cairan inti yang layak kita resapi dan dijadikan bahan untuk mengadakan perubahan. Kadang kita perlu nutrisi dan vitamin tambahan agar semakin sehat, bukan? Jadi, harus diterima pula bahwa ada sisi buta kita yang hanya bisa dinilai oleh orang lain. Tugas kita adalah memilih yang objektif, dan menjadikannya bahan yang harus diolah untuk menjadi lebih baik. Merasa sudah selalu baik, bersikap amat bodo berlama lama hanya akan menumpuk sakit mental lainnya. Mengapa? Karena selain memicu jadi sombong (ini jenis sakit mental juga lo, uda gitu dosa pula😔), hal ini juga akan menyebabkan kita menarik diri dari lingkungan. Memelihara dendam, merasa tidak nyaman dengan lingkungan, menghindari orang lain, dan memilih menutup diri. Jangan sampai ya Gengs. Kalau dibahas jadinya panjang😔

Mari kita pastikan saringan dalam otak kita selalu dalam mode stand by ya Gengs. Biar selalu otomatis dalam menyaring segala arus informasi, baik dalam bentuk kritikan ataupun saran sehingga kita nggak gampang sakit hati. Kalau kita terbiasa menyaring otak kita dari segala apa yang kita dengar, mudah mudahan kita juga terbiasa menggunakan saringan untuk memfilter apa apa yang akan kita katakan kepada orang lain. Setuju, tidak?😊 Mari dimulai dari diri sendiri dulu, kemudian ditularkan pada orang lain. Tos yuukkk✋✋✋✋

Sudah dulu ya Gengs, mon maap jika ada yang kurang berkenan. Dari saya yang selalu berusaha menulis dengan otak dan hati. _Lilla_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *